Kenaikan harga gas minyak cair terjadi akibat ketegangan geopolitik dan blokade Selat Hormuz, mempengaruhi stabilitas ekonomi global. Krisis ini telah memberikan guncangan hebat pada sektor energi.
Fakta kunci:
- Blokade Selat Hormuz berdampak pada pasokan energi global dan permintaan perjalanan.
- Sekitar 900 juta barel minyak tidak diproduksi dalam beberapa bulan terakhir.
- Harga minyak mentah jenis Brent sempat meroket lebih dari 60% hingga mencapai US$119,50 per barel.
- Harga minyak WTI mencatat kenaikan hingga 78% sejak konflik dimulai.
Wael Sawan menyatakan, “Kami melihat sekitar 900 juta barel yang tidak diproduksi dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar ditutup dengan menguras cadangan. Kini stok mulai menipis.” Kar Yong Ang menambahkan, “Harga minyak yang tinggi bertindak sebagai pajak bagi konsumen dan merusak permintaan agregat.”
Situasi semakin genting dengan ditutupnya Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Lonjakan harga energi global ini diperkirakan akan berdampak luas, mulai dari kenaikan biaya transportasi hingga tekanan inflasi di berbagai sektor.
Harga minyak mentah dunia jenis Brent crude mencapai US$111,78 per barel. World Bank memproyeksikan harga minyak masih berpeluang naik hingga menyentuh US$115 per barel. Uni Emirat Arab juga mengumumkan keluar dari OPEC efektif mulai 1 Mei 2026.












