BBRI mencatat laba Rp15,5 triliun di Q1 2026 meskipun harga sahamnya turun 0,65% ke Rp3.050 per lembar. Ini adalah level terendah dalam 5,5 tahun terakhir. Saham BBRI mengalami penurunan harga akibat dana asing yang keluar dari pasar modal.
Fakta kunci:
- Net Interest Margin (NIM) BBRI tercatat 8,2%, naik 4 basis poin secara tahunan.
- Cost of Credit (CoC) BBRI turun ke 3,3% dari 3,8% pada periode yang sama tahun lalu.
- Pertumbuhan laba BBRI ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12% YoY.
- Dividen yield saham BBRI tercatat mencapai 9% untuk tahun 2025.
- Total transaksi saham BBRI mencapai Rp836,37 miliar.
Lo Kheng Hong, seorang analis pasar, mengatakan, “Tentu saja masih menjanjikan kedepannya.” Dia juga menambahkan bahwa “saham bank BUMN sangat menarik, deviden yield big bank pemerintah 10%, lebih tinggi dari Deposito & Obligasi.” Rekomendasi analis untuk saham BBRI adalah Buy dengan target harga Rp4.800.
Kualitas aset BBRI tetap stabil meskipun ada tekanan margin industri perbankan. Analis memperkirakan NIM BBRI telah mendekati puncak. Kualitas aset tetap krusial, terutama melalui pemantauan NPL, LAR, dan CoC di kuartal berikutnya.












