Serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah pada 2 Mei 2026 menunjukkan skala kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serangan ini memicu kekhawatiran tentang efektivitas aliansi dengan Washington.
Iran telah menyerang 16 pangkalan militer AS di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026. Kerusakan pada pangkalan bervariasi dari kehancuran total hingga kerusakan yang masih bisa diperbaiki. Target serangan termasuk sistem radar canggih, infrastruktur komunikasi, dan pesawat militer.
Biaya konflik:
Diperkirakan mencapai antara 25 hingga 50 miliar dolar AS. dan Biaya perbaikan Markas Besar Armada Kelima Angkatan Laut AS mencapai sekitar 200 juta dolar AS.
Serangan Iran dilaporkan menggunakan drone dan rudal presisi. Sistem radar AS dianggap sebagai sumber daya paling mahal dan terbatas di kawasan tersebut. Camp Buehring di Kuwait mengalami kerusakan parah akibat serangan ini, sementara Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar juga menjadi target.
Pangkalan militer AS di delapan negara terdampak serangan ini. Iran diduga menggunakan satelit mata-mata buatan China untuk memantau pangkalan AS, meskipun pemerintah China membantah tuduhan tersebut.
Sumber dari Arab Saudi menyatakan, “Perang tersebut menunjukkan kepada kita bahwa aliansi dengan AS tidak bisa eksklusif dan tidak tak tergoyahkan.” Selain itu, staf kongres menambahkan, “Patut dicatat bahwa mereka benar-benar mengidentifikasi fasilitas-fasilitas tersebut sebagai target yang paling hemat biaya untuk diserang.” Sumber dari AS mengungkapkan, “Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.”














