Presiden LaLiga, Javier Tebas, secara terbuka mengkritik FIFA terkait rencana penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2030. Tebas berpendapat bahwa kebijakan FIFA ini dapat merusak industri sepak bola secara keseluruhan, dengan menyatakan bahwa FIFA hanya berfokus pada Piala Dunia tanpa mempertimbangkan kondisi pemain dan kompetisi lainnya.
Kritik ini muncul setelah Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir, di mana Spanyol keluar sebagai juara. Piala Dunia 2026 diikuti oleh 48 tim, meningkat dari edisi sebelumnya yang melibatkan 32 tim. FIFA dilaporkan berencana untuk meningkatkan jumlah peserta lagi pada Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara.
Tebas menyoroti bahwa FIFA tidak memikirkan kompetisi domestik, padahal perputaran uang di kompetisi tersebut sangat penting bagi banyak pihak. Ia merasa bahwa FIFA mengabaikan aspek ini, yang menurutnya merupakan tulang punggung olahraga.
Kekhawatiran Terhadap Industri Sepak Bola
Menurut Tebas, industri sepak bola tidak hanya berpusat pada Piala Dunia, meskipun ajang tersebut merupakan yang terpenting. Ia menekankan bahwa kompetisi nasional adalah fondasi yang mendukung olahraga ini.
“Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, untuk sebuah ajang yang berlangsung selama 40 hari dan melibatkan minoritas pemain,” ujar Tebas. Ia menambahkan bahwa dibutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional di semua tingkatan. Tebas menilai keputusan FIFA ini tidak bertanggung jawab.
Tebas juga mengemukakan bahwa sistem di FIFA “salah” dan memungkinkan Gianni Infantino tetap menjabat sebagai ketua FIFA, meskipun ia merasa FIFA “menghancurkan” sepak bola. Ia berpendapat bahwa FIFA mengatur sesuai keinginan dan kepentingan sendiri, bukan demi kepentingan sepak bola.
Sebagai contoh, Tebas menyinggung jeda 27 menit yang diterapkan FIFA, yang menurutnya hanya untuk iklan dan bukan untuk kepentingan pemain, meskipun di LaLiga jeda minum hanya diterapkan saat cuaca sangat panas.
Dampak Lingkungan Piala Dunia
Di sisi lain, isu lingkungan juga menjadi sorotan terkait penyelenggaraan Piala Dunia. Sebuah penelitian terbaru memperkirakan bahwa Piala Dunia 2026 akan menghasilkan sekitar 4,2 juta metrik ton emisi karbon dioksida. Lebih dari 80 persen dari polusi ini diperkirakan berasal dari perjalanan penonton, terutama yang menggunakan pesawat terbang.
Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Shaun Larcom dari Universitas Cambridge bersama rekan-rekannya menunjukkan bahwa hampir semua kerusakan lingkungan dari Piala Dunia 2026, yang diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, berasal dari pergerakan manusia, bukan dari pembangunan stadion atau pelaksanaan acara.
Perjalanan penonton menyumbang sekitar 82 persen dari total polusi, dengan penerbangan internasional sebagai penyumbang terbesar. Gabungan penggunaan stadion, hotel, dan makanan menyumbang kurang dari seperlima dari total emisi. Rata-rata, satu penonton akan menghasilkan sekitar 1,8 metrik ton karbon dioksida.
Penelitian ini menyoroti bahwa masalah polusi iklim pada acara besar seperti Piala Dunia sebagian besar berada pada perilaku penonton. Untuk mengurangi dampak ini, disarankan untuk mendorong penonton bepergian dengan cara yang lebih ramah lingkungan, misalnya melalui aplikasi ponsel yang memberikan insentif.

Faktor lokasi juga menjadi penentu besar. Sekitar 40 persen penonton internasional berasal dari Eropa. Jika pertandingan Piala Dunia lebih banyak diadakan di sana, jumlah penerbangan jarak jauh yang sangat kotor dapat berkurang drastis. Para peneliti berpendapat bahwa beban tanggung jawab ini harus ditanggung bersama oleh panitia dan penonton.
Membayar ganti rugi polusi secara langsung melalui uang dianggap lebih sulit dilakukan secara adil. Jika seluruh biaya kerugian lingkungan dimasukkan ke dalam harga tiket, harga tiket Piala Dunia bisa melonjak sekitar 114 dolar AS per kursi, yang akan memberatkan pembeli tiket murah. Oleh karena itu, skema “tebus karbon” ditempatkan di urutan paling akhir sebagai solusi untuk sisa polusi yang tidak dapat dihilangkan dengan cara lain.
Piala Dunia 2030 direncanakan akan memiliki format tuan rumah yang berbeda, dengan Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai tuan rumah utama, sementara laga pembuka juga akan digelar di Argentina, Paraguay, dan Uruguay untuk merayakan 100 tahun Piala Dunia.
Read Also
Source: sport.detik.com










