Korea Utara akan menyambut kunjungan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pada 9-10 April 2026, atas undangan Pyongyang. Kunjungan ini menjadi langkah penting dalam memajukan hubungan antara kedua negara, yang telah mengalami berbagai dinamika sejak beberapa tahun terakhir.
Wang Yi, yang terakhir kali mengunjungi Korea Utara pada September 2019, akan melakukan kunjungan ini di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan. Pada 8 April 2026, Korea Utara menembakkan proyektil tak dikenal ke arah Laut Timur, sebuah tindakan yang dilaporkan oleh Kepala Staf Gabungan Korea Selatan. Peluncuran ini terjadi setelah pernyataan penyesalan dari Seoul terkait pelanggaran wilayah oleh drone sipil pada Januari 2026.
Kunjungan Wang Yi diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan koordinasi antara China dan Korea Utara, terutama dalam menghadapi situasi internasional yang bergejolak. Dalam pertemuan sebelumnya, Kim Jong Un menyatakan dukungan untuk upaya China dalam membangun ‘dunia multipolar’. Wang Yi juga mengungkapkan pentingnya kedua negara untuk memperkuat kerjasama dalam urusan internasional dan regional utama.
Sejak awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020, hubungan antara Korea Utara dan China sempat terputus, termasuk layanan penerbangan dan kereta penumpang. Namun, pada Maret 2026, layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang diaktifkan kembali setelah enam tahun terhenti. Saat ini, terdapat dua penerbangan per minggu antara kedua ibukota, dengan harga tiket kereta mencapai 1000 RMB.
Dalam konteks ini, Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menyatakan bahwa kunjungan Wang Yi merupakan langkah penting bagi kedua negara untuk bertindak berdasarkan pemahaman bersama antara para pemimpin tertinggi. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat hubungan bilateral di tengah tantangan yang ada.
Reaksi dari Korea Utara terhadap peluncuran proyektil ini juga mencerminkan ketegangan yang ada. Kim Yo Jong, seorang pejabat tinggi di Korea Utara, menyebut tindakan tersebut sebagai perilaku yang sangat beruntung dan bijaksana demi kepentingan pemerintah sendiri. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomasi, ketegangan militer tetap menjadi bagian dari dinamika hubungan antara Korea Utara dan negara-negara tetangganya.
Dengan kunjungan Wang Yi yang akan datang, banyak pihak berharap akan ada kemajuan dalam hubungan antara Korea Utara dan China. Namun, detail mengenai hasil konkret dari pertemuan ini masih belum terkonfirmasi. Kunjungan ini juga dilakukan sebelum kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada bulan Mei 2026, yang dapat mempengaruhi dinamika lebih lanjut di kawasan.
Secara keseluruhan, situasi di Korea Utara dan hubungan dengan China tetap menjadi perhatian utama di kawasan Asia Timur, dengan berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan jalan bagi peningkatan kerjasama dan stabilitas di wilayah tersebut.












