Dominasi Paris Saint-Germain di Piala Super Eropa
Paris Saint-Germain berhasil meraih gelar Piala Super Eropa 2026 setelah mengalahkan Aston Villa dengan skor 2-1. Pertandingan tersebut berlangsung di Red Bull Arena, Salzburg, Austria. Kemenangan ini menandai gelar Piala Super Eropa kedua berturut-turut bagi Paris Saint-Germain, mengukuhkan dominasi mereka di kancah Eropa.
Dalam pertandingan tersebut, Paris Saint-Germain tampil agresif sejak awal. Peluang pertama datang dari Desire Doue pada menit ke-20, namun tembakannya berhasil diamankan oleh kiper Aston Villa, Marco Bizot. Tidak lama kemudian, Khvicha Kvaratskhelia membuka keunggulan untuk Paris Saint-Germain. Pemain asal Georgia itu melakukan aksi individu sebelum melepaskan tembakan keras ke tengah gawang, membuat skor menjadi 1-0.

Aston Villa kemudian meningkatkan tekanan dan berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-45 melalui gol Brian Madjo. Memasuki babak kedua, Paris Saint-Germain kembali memimpin pada menit ke-61 melalui gol Doue. Skor menjadi 2-1 untuk Paris Saint-Germain hingga peluit akhir berbunyi.
Perbandingan dengan Era Zinedine Zidane dan Pelatih Lain
Keberhasilan Paris Saint-Germain meraih Piala Super Eropa secara beruntun menempatkan mereka sejajar dengan klub-klub legendaris seperti AC Milan dan Real Madrid yang juga pernah mempertahankan gelar tersebut dalam dua musim berturut-turut. AC Milan melakukannya pada tahun 1989 dan 1990 di bawah asuhan Arrigo Sacchi, sementara Real Madrid mencapai prestasi serupa pada tahun 2016 dan 2017.
Pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, dengan kemenangan ini tidak hanya menyamai pencapaian klub, tetapi juga menempatkan namanya sejajar dengan legenda kepelatihan di Eropa. Ini menyamai rekor yang dipegang oleh Zinedine Zidane, Pep Guardiola, dan Bob Paisley.
Perjalanan Enrique bersama Paris Saint-Germain dibandingkan dengan era dominasi Real Madrid di bawah kepemimpinan Zinedine Zidane dari tahun 2016 hingga 2018. Pada masa itu, Zidane berhasil meraih 3 gelar Liga Champions berturut-turut, bersama dengan dua gelar Piala Super Eropa secara beruntun. Kesamaan antara Zidane dan Enrique juga terlihat dalam ketenangan dan kendali mereka di bawah tekanan media.
Gaya Kepelatihan dan Dampak Strategis
Kesuksesan Enrique di Paris Saint-Germain dibangun di tengah perubahan besar dalam skuad. Ia mengambil alih tim setelah berakhirnya era pemain bintang seperti Lionel Messi, Neymar da Silva, dan kemudian Kylian Mbappe. Enrique memanfaatkan kepergian para pemain tersebut untuk membangun sistem kolektif yang ketat, berlandaskan pressing tinggi dan komitmen taktis yang mutlak.
Pendekatan ini berbeda dengan Zinedine Zidane yang mengambil alih Real Madrid pada Januari 2016 dengan skuad yang sudah lengkap dan dipenuhi bintang seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Karim Benzema, Toni Kroos, dan Luka Modric. Kejeniusan Zidane saat itu terletak pada kemampuannya mengelola para bintang dan menempatkan kepentingan tim di garis depan.
Enrique menunjukkan kepribadian kepemimpinan yang kuat, mirip dengan Zidane yang menanamkan budaya bangkit dan tantangan kepada para pemainnya. Paris Saint-Germain di bawah Enrique menunjukkan ketangguhan dan kemampuan dalam mengendalikan laga-laga final serta menangani tekanan pertandingan besar. Kemenangan ini menegaskan bahwa dominasi Paris Saint-Germain bukan lagi lonjakan sesaat, melainkan sebuah imperium sepak bola berkelanjutan yang telah mengakar budaya kemenangan.
Bagi Unai Emery, pelatih Aston Villa, kekalahan ini memperpanjang catatan buruknya, di mana ia selalu kalah dalam kesempatan tampil di ajang Piala Super Eropa.
Source: goal.com










