Astra International Tbk mengalokasikan belanja modal sebesar Rp36 triliun dan membagikan dividen tunai Rp15,67 triliun di tengah ketegangan geopolitik. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan dalam industri otomotif yang tertekan oleh situasi global.
PT Astra Otoparts Tbk menyiapkan strategi untuk meredam dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berupaya menjaga stabilitas operasionalnya meski ada tantangan eksternal.
Rapat umum pemegang saham tahunan PT Astra International Tbk menyepakati pembagian dividen tunai senilai Rp15,67 triliun. Dividen ini setara dengan Rp390 per saham untuk tahun buku 2025.
Dividen interim sebesar Rp3,97 triliun telah dibayarkan pada 31 Oktober 2025. Boy Kelana Soebroto mengungkapkan, “Dividen itu akan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat namanya dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per 6 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.”
Astra juga mengalokasikan belanja modal sekitar Rp36 triliun untuk tahun ini. Hsu Hai Yeh menyatakan, “Kami berencana untuk meningkatkan alokasi investasi sekitar 10% menjadi sekitar Rp36 triliun.” Alokasi ini meningkat dari realisasi belanja modal tahun sebelumnya yang mencapai Rp32 triliun.
Astra memiliki tujuh lini bisnis utama, termasuk otomotif dan mobilitas, jasa keuangan, serta alat berat dan pertambangan. Perusahaan juga sedang melakukan kajian ulang atas seluruh portofolio bisnisnya secara strategis.
Selain itu, Astra menyiapkan tiga pilar baru: infrastruktur, kesehatan, dan mineral. Langkah ini menunjukkan komitmen Astra untuk diversifikasi usaha di tengah ketidakpastian pasar.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai membayangi kinerja industri otomotif nasional. Namun, Astra tetap optimis dalam menghadapi tantangan tersebut.
Perkembangan lebih lanjut mengenai strategi bisnis dan akuisisi diharapkan muncul dalam waktu dekat. Astra berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar global.













