Nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar AS mencapai Rp17.112 pada penutupan perdagangan Jumat, 10 April 2026. Ini merupakan level terendah sepanjang masa bagi rupiah, yang melemah 0,17% dari penutupan perdagangan sebelumnya yang sebesar Rp17.082. Pelemahan ini menimbulkan dampak signifikan bagi pasar keuangan dan investasi di Indonesia.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia (BI) masih menggunakan cara konvensional dalam menjaga nilai tukar rupiah. Menurutnya, pendekatan yang diterapkan saat ini tidak cukup efektif untuk menghadapi kompleksitas permasalahan yang semakin meningkat. “Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati,” kata Misbakhun.
Fluktuasi nilai tukar rupiah ini dapat mempengaruhi keuntungan atau kerugian investasi di saham luar negeri. Dividen yang dibayarkan dalam dolar AS dapat terpengaruh oleh nilai tukar, sehingga investor perlu mempertimbangkan dampak ini dalam strategi investasi mereka. Misbakhun menambahkan, “Permasalahannya makin lama makin kompleks, dia [cara BI] tidak berubah.”
Dalam konteks ini, investor asing yang berinvestasi di saham Amerika juga harus memperhatikan potongan pajak yang berlaku. Pajak dividen untuk investor asing di Amerika Serikat mencapai 30%, sementara investor Indonesia dikenakan potongan pajak sebesar 10%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah yang melemah dapat berpengaruh langsung pada hasil investasi mereka.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, kurs rupiah pernah berada di sekitar Rp13.600 pada tahun 2018 dan melemah hingga lebih dari Rp16.500 pada tahun 2020 saat pandemi. Kini, dengan kondisi pasar yang diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek, investor diharapkan untuk tidak panik setiap kali rupiah melemah dan tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang.
Dengan kondisi yang ada, kebijakan moneter Bank Indonesia perlu membuka perspektif yang lebih kuat agar dapat menghadapi tantangan yang ada. “Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa menguntungkan atau merugikan, baik dari sisi portofolio maupun dividen,” ungkap seorang analis pasar. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantauan yang cermat terhadap pergerakan nilai tukar.
Ke depan, detail mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh Bank Indonesia dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah masih belum jelas. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar, dan investor diharapkan untuk tetap waspada terhadap perkembangan yang akan datang.














