Tindakan militer Amerika Serikat di Iran telah memicu kritik dari Paus Leo XIV, yang menyatakan bahwa hasrat untuk mendominasi tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Pada tanggal 13 April 2026, pukul 10:00 waktu setempat, militer Amerika Serikat mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran untuk membuka Selat Hormuz. Blokade ini dilaksanakan atas perintah Presiden Donald Trump setelah perundingan antara kedua negara gagal.
Menurut pernyataan resmi, kapal yang masuk atau meninggalkan wilayah yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, hingga ditahan. Namun, kapal pengangkut makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas setelah pemeriksaan. Dalam pernyataannya, Trump mengancam pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menegaskan bahwa “tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas.”
Blokade ini dilakukan dengan jarak kapal induk USS Abraham Lincoln sekitar 200 kilometer dari perairan Iran. Tindakan ini menambah ketegangan yang sudah ada antara Amerika Serikat dan Iran, di mana 59 persen warga AS menilai bahwa perang ini berjalan buruk. Paus Leo XIV menyatakan bahwa ia tidak takut pada pemerintahan Trump dan akan terus bersuara menentang perang, mengkritik tindakan militer AS di Iran sebagai tidak sesuai dengan ajaran Kristus.
Paus Leo XIV juga menekankan bahwa “Tuhan tidak merestui konflik apa pun,” dan menegaskan bahwa tindakan militer tidak akan menciptakan ruang bagi kebebasan atau masa-masa damai. Pernyataan ini menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kebijakan luar negeri yang diambil oleh pemerintahan Trump, terutama terkait dengan Iran.
Dalam konteks ini, pengamat dan analis politik memperkirakan bahwa ketegangan antara kedua negara akan terus meningkat, dan kemungkinan akan ada reaksi lebih lanjut dari Iran terhadap tindakan blokade ini. Sementara itu, Trump juga menyatakan, “Saya tidak ingin seorang Paus berpikir bahwa baik-baik saja jika Iran memiliki senjata nuklir,” menunjukkan kekhawatirannya terhadap potensi ancaman dari Iran.
Dengan situasi yang semakin memanas, banyak pihak yang menantikan langkah selanjutnya dari kedua negara. Apakah Iran akan merespons dengan tindakan militer atau diplomatik masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Details remain unconfirmed.














