Argentina berhasil melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Inggris dalam pertandingan semifinal yang berlangsung dramatis. Pertandingan yang digelar di Atlanta Stadium pada Kamis dini hari WIB itu berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Argentina, meskipun Inggris sempat unggul lebih dulu.
Tim asuhan Thomas Tuchel harus mengakui keunggulan Argentina setelah sempat memimpin. Gol pembuka dicetak oleh Anthony Gordon pada menit ke-55, memberikan harapan bagi The Three Lions. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama, dan Argentina berhasil membalikkan keadaan di menit-menit akhir pertandingan.
Kebangkitan Argentina Dipimpin Messi
Setelah gol Gordon, Lionel Messi menunjukkan kualitasnya sebagai pengatur serangan. Pergerakan Messi di lapangan menjadi kunci kebangkitan Argentina, dengan banyak ancaman yang berasal dari dirinya. Menurut catatan, Messi melakukan 94 sentuhan yang sebagian besar berada di area pertahanan Inggris, menunjukkan dominasinya dalam membangun serangan.
Beberapa peluang Argentina tercipta dari kaki Messi, termasuk umpan silang yang beberapa kali mengancam gawang Inggris. Pergerakannya di sayap kanan memaksa pemain Inggris terpancing, menciptakan celah di lini pertahanan. Celah ini berhasil dimanfaatkan oleh Enzo Fernandez yang mencetak gol penyeimbang pada menit ke-85 setelah menerima umpan dari Messi.
Messi kembali membuktikan kemampuannya dengan memberikan umpan dari sisi sayap menggunakan kaki kanannya, yang disebut sebagai kaki terlemahnya. Umpan tersebut berhasil disambut oleh Lautaro Martinez yang mencetak gol kemenangan melalui sundulan pada menit ke-90+2. Dua assist dari Messi memastikan kemenangan Argentina dan membawa mereka ke final.
Kapten Inggris, Harry Kane, mengakui kesulitan menghadapi Messi. Ia menyatakan bahwa meskipun timnya berhasil menghadapi Messi dengan baik sepanjang sebagian besar pertandingan, pemain berbahaya seperti Messi dapat menciptakan peluang begitu mereka menguasai bola. Kane juga menambahkan bahwa Messi adalah salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Perubahan Taktik Tuchel dan Dampaknya
Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengakui bahwa perubahan taktik yang dilakukannya pada babak kedua tidak mampu menghentikan kebangkitan Argentina. Tuchel menjelaskan bahwa timnya kehilangan intensitas setelah mencetak gol, dan tidak mampu mempertahankan level permainan setelah unggul.
Saat Inggris masih unggul 1-0, Tuchel melakukan tiga pergantian pemain untuk memperkuat lini pertahanan. Anthony Gordon ditarik keluar pada menit ke-72 dan digantikan oleh Ezri Konsa. Sepuluh menit kemudian, Dan Burn masuk menggantikan Reece James, dan Nico O’Reilly menggantikan Declan Rice.
Perubahan formasi menjadi lima bek dilakukan Tuchel untuk menutup ruang yang mulai terbuka di lini belakang. Ia berharap dapat menutup ruang di area tengah dan menjadi lebih kuat dalam duel udara. Namun, setelah perubahan tersebut, Argentina justru semakin menguasai jalannya pertandingan.
Tuchel menyatakan bahwa timnya sudah memberikan terlalu banyak peluang kepada Argentina bahkan sebelum pergantian pemain dilakukan. Ia juga mengakui bahwa tanggung jawab atas hasil pertandingan ada pada pelatih. Data menunjukkan bahwa Inggris hanya membukukan 12 persen penguasaan bola sejak gol Gordon hingga gol Lautaro Martinez.
Meskipun demikian, Tuchel belum ingin memberikan evaluasi menyeluruh mengenai perjalanan Inggris di Piala Dunia. Ia menyebutkan bahwa timnya menunjukkan mentalitas yang kuat sepanjang turnamen, menghadapi lawan-lawan tangguh di fase grup, melakukan perjalanan jauh, bermain di dataran tinggi, bermain dengan 10 pemain, dan bertanding dalam cuaca panas.
Dengan kemenangan ini, Argentina akan menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di New Jersey Stadium pada Minggu, 19 Juli mendatang.
Perjalanan Menuju Final
Kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal ini menandai perjalanan yang penuh tantangan bagi Albiceleste. Messi, dengan dua assist krusialnya, sekali lagi membuktikan kemampuannya untuk mengubah jalannya pertandingan di level tertinggi. Kualitas individu Messi menjadi faktor penentu dalam momen-momen genting, memberikan pelajaran berharga bagi tim lawan.
Di sisi lain, Inggris harus menerima kekalahan yang dramatis. Meskipun sempat memimpin, ketidakmampuan mereka untuk mempertahankan intensitas permainan dan perubahan taktik yang tidak berjalan sesuai harapan menjadi penyebab utama. Penguasaan bola yang rendah setelah unggul menunjukkan bagaimana Argentina berhasil mengambil alih kendali permainan.
Pertandingan semifinal ini menjadi bukti bahwa di Piala Dunia, setiap detail dan keputusan taktis dapat memiliki dampak besar pada hasil akhir. Kemampuan seorang pemain seperti Messi untuk bangkit dan memimpin timnya di saat-saat kritis adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan.
Final antara Argentina dan Spanyol akan menjadi pertarungan antara juara bertahan dan juara Eropa, menjanjikan pertandingan yang menarik di New Jersey Stadium.
Read Also
Source: sport.detik.com









