Roberto Mancini telah kembali memimpin tim nasional Italia, menyadari bahwa ada pihak-pihak yang tidak senang dengan penunjukan dirinya. Ia bertekad untuk mengubah pandangan negatif tersebut menjadi dukungan. Mancini mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers pertamanya setelah ditunjuk sebagai pelatih, didampingi oleh Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Giovanni Malago dan Direktur Teknik Claudio Ranieri.
Penunjukan kembali Mancini, yang sebelumnya melatih Italia dari 2018 hingga 2023, menimbulkan pertanyaan. Meskipun ia berhasil membawa Gli Azzurri menjuarai Piala Eropa 2020, ia juga gagal meloloskan tim ke Piala Dunia 2022. Pengunduran dirinya pada 2023 juga memicu kontroversi setelah berselisih dengan Presiden FIGC saat itu, Gabriele Gravina, terutama karena ia kemudian menerima tawaran melatih Timnas Arab Saudi dengan gaji tinggi.
Tantangan dan Penyesalan Mancini
Dalam konferensi pers, Mancini menyadari bahwa ia akan ditanyai mengenai situasi pengunduran dirinya. Ia menjelaskan bahwa apa yang terjadi tiga tahun lalu disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara dirinya dan Presiden Gravina. Mancini merasa bahwa jika mereka bertemu langsung, situasinya akan berbeda.
Ia menyatakan bahwa tim nasional sangat penting baginya, dan kepergiannya terasa seperti kehilangan kekasih. Mancini mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan, terlepas dari kesuksesan yang telah diraih. Ia meminta maaf atas segala yang terjadi selama tiga tahun terakhir, namun merasa takdir dan Malago telah memberinya kesempatan kedua untuk mencoba lagi.
Mancini berambisi membawa tim nasional kembali ke posisi yang seharusnya, dengan tim yang mampu menunjukkan performa seperti saat menjuarai Piala Eropa 2020. Ia yakin skuad Italia saat ini memiliki bakat muda yang mumpuni, dan misinya adalah menampilkan sepak bola yang bagus dan positif. Sebagai pelatih tim nasional, ia sadar akan ada pihak yang menentangnya, namun ia akan berusaha agar tim tampil baik sehingga mereka yang berseberangan akan kembali mencintai dan mungkin memaafkannya.
Mancini menargetkan tim nasional Italia kembali meraih trofi. Ia berharap dapat memenangkan satu atau bahkan dua trofi penting selama kontrak empat tahunnya, dan jika memungkinkan, bertahan lebih lama. Pelatih berusia 61 tahun ini berambisi membawa Italia kembali meraih gelar besar setelah gagal tampil di beberapa edisi Piala Dunia terakhir dan belum menjuarai turnamen mayor sejak Euro 2020.
Pencarian Pelatih dan Turbulensi FIGC
Keputusan FIGC untuk kembali menunjuk Mancini merupakan jalan pintas di tengah turbulensi yang melanda federasi. FIGC sebelumnya gagal meyakinkan Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti untuk melatih tim, dan menolak Andrea Pirlo. Penolakan terhadap Pirlo dikaitkan dengan keterlibatannya dengan perusahaan judi Rusia, serta pengalaman melatihnya yang dinilai kurang meyakinkan. Situasi ini juga diikuti oleh pengunduran diri Direktur Teknik FIGC Paolo Maldini dan penasihat khususnya, Leonardo, yang baru menjabat selama 16 hari.
Turbulensi ini memaksa Presiden FIGC Giovanni Malago mengambil langkah pragmatis dengan kembali menunjuk Mancini. Sensasi pahit pada Agustus 2023 saat Mancini meninggalkan Italia dikesampingkan karena waktu untuk membangun kembali Gli Azzurri semakin sempit. Malago merasa bahwa jika terus mencari sosok ideal yang diterima semua pihak, akan membutuhkan waktu lebih lama, padahal Liga Nasional Eropa akan segera bergulir.
Malago menyatakan bahwa waktu semakin tipis dan Mancini adalah sosok yang tepat untuk posisi pelatih karena berbagai alasan, menjadikannya pilihan terbaik yang memungkinkan. Meskipun demikian, sebagian tokoh sepak bola Italia, termasuk Fabio Capello, menilai bahwa Antonio Conte lebih tepat untuk memimpin Italia saat ini. Capello tidak mempertanyakan kemampuan Mancini sebagai pelatih, namun mengkritik keputusannya mengundurkan diri untuk melatih Timnas Arab Saudi pada 2023.
Kenangan buruk atas keputusan Mancini meninggalkan Italia pada Agustus 2023 masih menjadi ganjalan. Italia telah mengalami kegagalan dalam beberapa edisi Piala Dunia, termasuk pada 2018 dan 2022. Mancini sendiri gagal meloloskan Italia pada 2022, meskipun dua tahun sebelumnya ia membawa Azzurri menjuarai Piala Eropa.
Masalah sepak bola Italia sangat rumit, melibatkan pembinaan usia muda dan kebijakan promosi pemain muda ke level elite klub-klub Serie A. Kondisi ini membatasi pilihan pemain untuk membangun sistem permainan yang kompleks. Mantan bek Italia, Franco Baresi, menyatakan bahwa seluruh sepak bola Italia harus mengakui kesalahan mereka karena hasil 20 tahun terakhir dapat dilihat oleh semua orang, dengan pengecualian kemenangan di Piala Eropa 2020.
Mancini memiliki waktu singkat untuk mempersiapkan Azzurri menghadapi turnamen antarnegara Eropa. Italia tergabung di Grup A1 bersama Perancis, Belgia, dan Turki. Laga pertama Italia di bawah Mancini dijadwalkan melawan Belgia di Olimpico Roma pada 25 September.

Target dan Harapan Mancini
Mancini optimistis bahwa Italia masih memiliki banyak pemain berbakat untuk membentuk tim yang kompetitif. Ia mendorong klub-klub di Italia untuk lebih berani memberikan kesempatan bermain kepada para pemain muda. Selain itu, Mancini mengungkapkan dua target utama yang ingin diwujudkannya bersama Gli Azzurri.
Target pertamanya adalah membuat para pendukung Italia kembali mencintai tim nasional. Kedua, ia ingin memastikan anak-anak, seperti keponakannya yang berusia 12 tahun, yang belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia, akhirnya mendapat kesempatan untuk menyaksikannya. Mancini dijadwalkan menjalani laga pertamanya pada periode kedua sebagai pelatih Italia saat menghadapi Belgia di ajang UEFA Nations League di Roma pada 25 September.
Source: sport.detik.com










