Ketegangan antara AS dan Iran meningkat seiring dengan penutupan Selat Hormuz. Dalam konteks ini, Donald Trump meminta negara-negara sekutu untuk mengamankan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak melonjak di seluruh dunia, dan Trump menginginkan kapal penyapu ranjau serta pasukan untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut. Dia menegaskan, “Sekarang kita akan lihat apakah mereka membantu kita.” Pernyataan ini menunjukkan harapannya terhadap dukungan dari sekutu-sekutu NATO.
Namun, situasi ini tidak berjalan mulus. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyatakan bahwa Bundeswehr tidak akan terlibat dalam operasi militer di Selat Hormuz. Selain itu, Jepang dan Australia juga menolak untuk terlibat dalam upaya keamanan di kawasan tersebut.
Trump memperingatkan bahwa jika NATO tidak memberikan tanggapan positif, masa depan organisasi tersebut akan terancam. “Jika tidak ada tanggapan atau jika itu adalah tanggapan negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” ujarnya.
Saat ini, Uni Eropa masih membahas posisi mereka terkait keamanan di Selat Hormuz. Keputusan yang diambil oleh negara-negara ini akan sangat mempengaruhi situasi di kawasan tersebut.
Sejak penutupan Selat Hormuz, 16 kapal telah diserang, menyebabkan banyak kapal tanker menghindari area tersebut. Hal ini menambah kekhawatiran akan dampak lebih lanjut terhadap pasokan energi global.
Trump menegaskan, “Apa pun yang diperlukan,” untuk memastikan keamanan di Selat Hormuz. Namun, dengan penolakan dari beberapa negara sekutu, masa depan kerjasama internasional di kawasan ini masih penuh ketidakpastian.
Dengan meningkatnya ketegangan dan tantangan yang dihadapi, banyak pengamat dan pejabat memperkirakan bahwa situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi fokus perhatian dunia. Details remain unconfirmed.














