“Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan itu tidak banyak minatnya, ya biasanya karena trafiknya kurang,”
Proyek Tol Getaci, yang dirancang untuk menghubungkan dua provinsi, Jawa Barat dan Jawa Tengah, memiliki panjang 206,65 kilometer. Dengan nilai investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 56,2 triliun, proyek ini telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak tahun 2020.
Namun, proyek ini tidak berjalan mulus. Dody Hanggodo mencatat bahwa minimnya ketertarikan investor umumnya disebabkan oleh proyeksi lalu lintas atau tingkat penggunaan jalan yang kurang menarik secara finansial. “Keterbatasan anggaran saat ini menghambat opsi tersebut,” tambahnya.
Sejak dimulainya proses lelang, Tol Getaci telah mengalami beberapa kali kegagalan. Saat ini, proyek ini masih dalam tahap evaluasi ulang sebelum dilelang kembali. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan dalam menarik investor dan memastikan kelayakan finansial proyek menjadi perhatian utama.
Proyek ini direncanakan memiliki 10 simpang susun strategis, yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antara kabupaten/kota yang dilintasi. Tol Getaci juga direncanakan untuk menjadi bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Jawa di bagian selatan.
Sebelum proyek ini dapat dilanjutkan, Kementerian PU mempertimbangkan untuk mengalihkan anggaran dari Tol Getaci ke proyek lain yang lebih mendesak, yang menambah ketidakpastian mengenai masa depan proyek ini.
Dengan panjang tol yang terbagi menjadi seksi-seksi, yaitu 45,20 kilometer untuk seksi 1 dan 50,32 kilometer untuk seksi 2, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan regional.
Namun, hingga saat ini, detail lebih lanjut mengenai perkembangan proyek ini masih belum dapat dipastikan. Proyek Tol Getaci tetap menjadi perhatian bagi banyak pihak yang berharap akan adanya kemajuan dalam pelaksanaannya.














