wartawarganews

Latest News, Stories and Updates from Citizens

Time is: Waktu adalah Kunci dalam Hubungan AS-Iran

time is — ID news

The numbers

Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengalami ketegangan yang meningkat, terutama dalam konteks konflik yang telah berlangsung selama enam minggu. Pada tanggal 3 April 2026, mantan Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa AS berencana untuk menguasai industri minyak Iran. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang semakin rumit di kawasan tersebut, di mana Iran terus memblokir Selat Hormuz dan meluncurkan serangan misil serta drone ke arah Israel dan target lainnya di wilayah tersebut.

Trump menyatakan, “Dengan sedikit lebih banyak waktu, kita bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyak, dan menghasilkan keuntungan besar.” Pernyataan ini mencerminkan pandangan Trump yang sebelumnya sering menyerukan untuk “mengambil minyak” dari negara-negara yang terlibat dalam konflik dengan AS, termasuk Irak dan Venezuela. Namun, ia juga mengakui bahwa kesabaran publik di AS mungkin terbatas untuk melanjutkan rencana tersebut.

Sementara itu, militer AS mengungkapkan bahwa mereka “belum siap” untuk mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz, menambah ketidakpastian mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh AS di kawasan tersebut. Situasi ini menjadi semakin rumit dengan fakta bahwa serangan terhadap situs sipil dilarang menurut hukum internasional, dan serangan terbaru oleh AS terhadap infrastruktur kritis Iran telah dibandingkan dengan taktik ISIL (ISIS) oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Baghaei menegaskan, “Kejahatan perang teroris ala DAESH/ISIS ini, bersama dengan serangan serupa terhadap infrastruktur kritis Iran, mengungkapkan satu kebenaran yang tak terbantahkan: tujuan akhir mereka adalah penghancuran Iran.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran merasa terancam dan berusaha untuk mempertahankan kedaulatannya di tengah tekanan internasional yang meningkat.

Sejak awal konflik, Iran telah berusaha untuk mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak global. Ketegangan ini berpotensi mempengaruhi pasar energi dunia, mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur transit bagi hampir sepertiga dari total pengiriman minyak dunia.

Seiring dengan berlanjutnya konflik, pengamat dan pejabat memperkirakan bahwa situasi ini akan terus berkembang, dengan kemungkinan terjadinya eskalasi lebih lanjut. Meskipun ada seruan dari beberapa pihak untuk meredakan ketegangan, tindakan agresif dari kedua belah pihak dapat memperburuk keadaan dan memicu reaksi yang lebih besar di kawasan tersebut.

Dengan waktu yang terus berjalan, tantangan bagi AS dan Iran adalah menemukan jalan keluar dari konflik ini tanpa menambah kerugian lebih lanjut. Penguasaan sumber daya alam, seperti minyak, telah menjadi isu yang sangat sensitif dan kompleks dalam hubungan internasional, dan sejarah menunjukkan bahwa tindakan agresif sering kali berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan.

Dalam konteks ini, penting untuk memantau perkembangan selanjutnya dan dampaknya terhadap hubungan AS-Iran serta stabilitas regional. Detail tetap belum terkonfirmasi, namun situasi ini menunjukkan bahwa waktu adalah faktor kunci dalam menentukan arah hubungan kedua negara di masa depan.