Key moments
Sebelum terjadinya perang pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat vital, dengan sekitar 138 kapal melintasi selat ini setiap harinya. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang digunakan untuk 20 persen pasokan minyak global. Namun, situasi ini berubah drastis setelah serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Setelah serangan tersebut, Iran mengambil langkah tegas dengan menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari negara-negara yang dianggap sebagai musuh. Hal ini menyebabkan penurunan lalu lintas harian kapal di selat tersebut sekitar 95%. Pada bulan Maret 2026, hanya 99 kapal yang berhasil melewati Selat Hormuz, jauh berkurang dibandingkan dengan angka sebelum perang.
Langkah Iran untuk menutup Selat Hormuz hanya bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik ini menunjukkan strategi mereka untuk mengendalikan jalur pelayaran yang sangat penting ini. Iran mengizinkan kapal dari negara yang tidak terlibat perang untuk melintasi selat tersebut, asalkan mereka mendapatkan koordinasi dan izin dari militer Iran. Kapal tanker berbendera Pakistan menjadi kapal non-Iran pertama yang melintasi Selat Hormuz sambil menyiarkan lokasinya, menandakan adanya upaya untuk menjaga keamanan di jalur tersebut.
Di sisi lain, dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia, menambah ketegangan di wilayah tersebut. Pemilik MT Safesea Vishnu menyatakan, “Jalur pelayaran komersial tidak boleh berubah menjadi zona pertempuran,” menekankan pentingnya menjaga keamanan jalur perdagangan internasional.
Menurut Michelle Wiese Bockmann, seorang analis, “Kesimpulan saya, Iran menutup dan mengendalikan selat melalui ketakutan akan serangan dan juga ketakutan terhadap ranjau.” Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut telah menciptakan suasana ketidakpastian bagi para pelaut dan perusahaan pengiriman.
Esmaeil Baghaei, seorang pejabat Iran, menegaskan bahwa kapal-kapal milik negara-negara yang tidak terlibat dalam perang telah diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi dan izin dari militer Iran. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada penutupan, masih ada ruang untuk diplomasi dan pengaturan yang lebih aman bagi pelayaran internasional.
Yvonne Mewengkang, seorang diplomat, menyatakan, “Kita akan terus mendorong pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu spesifik ini, karena ini merupakan isu yang krusial untuk kita.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun situasi di Selat Hormuz sangat tegang, ada upaya untuk mencari solusi damai dan menjaga stabilitas di kawasan tersebut.
Dengan situasi yang terus berkembang, dampak dari penutupan Selat Hormuz ini akan terus dirasakan oleh negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut. Details remain unconfirmed.














