Key moments
Sebelum serangan tragis ini, sekolah Shajarah Tayyebeh di Provinsi Hormozgan, Iran, telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan dasar selama lebih dari satu dekade. Sekolah ini dikenal sebagai tempat belajar bagi anak-anak, terutama gadis-gadis berusia antara 7 hingga 12 tahun. Harapan akan pendidikan yang aman dan berkualitas di daerah ini tampak menjanjikan, seiring dengan meningkatnya global enrolment dalam pendidikan dasar dan menengah yang telah meningkat sebesar 30% sejak tahun 2000.
Pada tanggal 28 Februari 2026, situasi berubah secara dramatis ketika sekolah tersebut terkena serangan rudal Tomahawk yang diluncurkan oleh militer AS. Dalam serangan tersebut, antara 170 hingga 264 siswa berada di dalam sekolah saat kejadian, dan setidaknya 165 orang, termasuk siswa, guru, dan orang tua, kehilangan nyawa mereka. Serangan ini terjadi pada pagi hari, antara pukul 10:00 hingga 10:45 waktu setempat, saat sesi belajar berlangsung.
Serangan ini dipicu oleh kesalahan penargetan yang disebabkan oleh data intelijen yang usang, menurut penyelidikan militer AS. Badan Intelijen Pertahanan (DIA) telah salah mengklasifikasikan sekolah tersebut sebagai target militer yang sah, meskipun sekolah itu telah terpisah secara fisik dari pangkalan angkatan laut IRGC antara tahun 2013 dan 2016. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam pendidikan global, situasi di daerah konflik tetap rentan.
Akibat serangan ini, harapan pendidikan di wilayah tersebut terguncang. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka, dan anak-anak yang selamat kini menghadapi trauma yang mendalam. Sekolah yang sebelumnya menjadi simbol pendidikan bagi anak perempuan kini menjadi lokasi tragedi yang menyedihkan. Dengan lebih dari satu dari enam anak hidup di daerah yang terkena konflik, seperti yang dilaporkan, angka ini hanya memperburuk tingkat putus sekolah di seluruh dunia.
Data menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan dalam tingkat penyelesaian pendidikan dasar global dari 77% menjadi 88% sejak tahun 2000, serangan ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh anak-anak di daerah konflik. Dengan 273 juta anak di seluruh dunia yang masih tidak bersekolah, insiden ini menambah daftar panjang tantangan yang harus dihadapi oleh sistem pendidikan di negara-negara yang dilanda perang.
Serangan ini juga mengundang perhatian internasional terhadap kondisi pendidikan di Iran dan negara-negara lain yang terlibat dalam konflik. Masyarakat internasional diharapkan dapat memberikan dukungan dan solusi untuk memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Dalam konteks ini, penting untuk mengingat bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi, terlepas dari situasi politik atau militer.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan yang aman, diharapkan bahwa insiden seperti ini tidak akan terulang. Namun, detail mengenai dampak jangka panjang dari serangan ini terhadap pendidikan di Iran dan di tempat lain masih belum jelas. Details remain unconfirmed.














