Bagaimana upaya pengelolaan sampah di Cimahi dan Jakarta Barat saat ini? Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, mengungkapkan bahwa semua kelurahan di Cimahi diminta untuk mengoptimalkan peran Bank Sampah dalam menyerap sampah anorganik bernilai ekonomi.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi juga menerapkan pola penjadwalan untuk pengambilan sampah organik dan anorganik. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sampah di wilayah tersebut.
Selain itu, DLH Kota Cimahi akan memaksimalkan keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terpadu untuk mengolah sampah secara mandiri. Pembuangan sampah ke TPA Sarimukti dibatasi maksimal 1.668 ton per dua minggu, yang menunjukkan adanya perhatian serius terhadap pengelolaan limbah.
Sementara itu, di Jakarta Barat, Suku Dinas Lingkungan Hidup berencana mengadakan workshop pilah sampah di Rusun Angke. Workshop ini menyasar setiap RW di Jakarta Barat, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.
Achmad Hariadi, salah satu petugas yang terlibat, menyatakan, “Kami menghadirkan semua stakeholder, seperti pengurus RT, RW, LMK, PKK RW, Dasawisma, Jumantik, petugas gerobak RW, petugas kebersihan dan sebagainya.” Ini menunjukkan kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak untuk menangani masalah sampah.
Namun, tantangan masih ada. Masyarakat di Rusun Angke masih belum bijak dalam mengelola sampah, hanya membuangnya ke TPS. Akibatnya, tumpukan sampah di Rusun Angke didominasi oleh sampah konveksi dan sisanya berasal dari warga sekitar. Achmad Hariadi menambahkan, “Akibat warga rusun tidak bijak dalam kelola sampah. Sampah hanya dibuang saja sehingga menumpuk di TPS Rusun Angke.”
Dengan berbagai inisiatif ini, diharapkan pengelolaan sampah di Cimahi dan Jakarta Barat dapat ditingkatkan. Namun, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah. Sehingga sampah dapat diselesaikan secara bersama-sama.












