PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 44,8% pada tahun 2025, dengan total pendapatan mencapai US$ 148 juta. Laba tahun buku CDIA juga mengalami lonjakan signifikan, mencapai US$ 121 juta, meningkat 285,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
CDIA melaporkan kenaikan EBITDA sebesar 288% menjadi US$ 118,8 juta pada tahun yang sama. Laba bersih setelah pajak mencapai US$ 127,8 juta, meningkat 281,7% year-on-year. Perusahaan juga memiliki liquidity pool sebesar US$ 803,3 juta per 31 Desember 2025.
Jumlah aset CDIA meningkat menjadi US$ 1,74 miliar per akhir tahun 2025, dengan jumlah ekuitas mencapai US$ 1,13 miliar dan liabilitas sebesar US$ 607 juta. Saham CDIA ditutup pada harga Rp 820 pada 27 Maret 2026, meskipun mengalami pelemahan 21,15% dalam sebulan terakhir.
Menurut Jonathan Kandinata, CEO CDIA, “Tahun 2025 menjadi momen transformatif bagi perusahaan.” Ia menambahkan, “Kami tetap berfokus pada ekspansi yang disiplin, keunggulan operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.”
Maybank Sekuritas menekankan bahwa “valuasi yang premium baru dapat terjustifikasi apabila terdapat aksi korporasi yang mampu memperkuat fundamental ke depan.” Sementara itu, Herdiasti Anggitya Dwisani menyatakan bahwa “tidak ada dampak material dari peristiwa eksternal terhadap operasional, keuangan, atau kelangsungan usaha perusahaan.”
Namun, kinerja CDIA di tahun 2026 diperkirakan akan menghadapi tantangan akibat dinamika pasar energi dan persaingan di sektor petrokimia. Selain itu, dampak dari tekanan harga bahan baku dan kebijakan pemerintah terhadap margin perusahaan belum sepenuhnya jelas. Details remain unconfirmed.














