Pada 12 April 2026, perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menghabiskan waktu selama 21 jam dalam upaya untuk mencari solusi damai terhadap konflik yang telah menewaskan ribuan orang.
Perundingan ini menjadi penting mengingat perang yang sedang berlangsung telah mengakibatkan kematian sedikitnya 3.000 orang di Iran dan 2.020 orang di Lebanon. Meskipun ada harapan untuk mencapai kesepakatan, Iran menolak syarat-syarat yang diajukan oleh AS, termasuk larangan pembangunan senjata nuklir. AS sendiri telah mengajukan 15 tuntutan kepada Iran sebelum perundingan dimulai.
Dalam pernyataannya, JD Vance mengungkapkan kekecewaannya, “Kami pulang ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan.” Sementara itu, Esmaeil Baqaei, seorang pejabat Iran, menekankan bahwa keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih memiliki pandangan yang berbeda mengenai langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencapai perdamaian.
Di sisi lain, Iran menegaskan komitmennya untuk melindungi kedaulatan wilayahnya, terutama di Selat Hormuz. Komando Angkatan Laut IRGC menyatakan, “Setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz akan dicegah secara tegas.” Selat Hormuz menjadi titik strategis yang sangat penting, mengingat banyaknya jalur perdagangan internasional yang melintasi perairan tersebut.
Perang ini telah menimbulkan dampak yang signifikan tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi negara-negara tetangga. Paus Leo XIV mengecam perang AS-Israel terhadap Iran dan menyerukan negosiasi untuk perdamaian. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap dampak perang yang berkepanjangan dan perlunya dialog untuk menyelesaikan konflik.
Perundingan di Islamabad ini adalah yang pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979, menandai momen penting dalam hubungan kedua negara yang telah lama tegang. Meskipun perundingan ini tidak menghasilkan kesepakatan, harapan untuk dialog tetap ada, meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, baik Iran maupun AS tampaknya masih berpegang pada posisi masing-masing. Iran bertekad untuk menggunakan segala cara, termasuk diplomasi, untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Sementara itu, Amerika Serikat terus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap tuntutan yang diajukan.
Details remain unconfirmed.








