The numbers
Perang AS-Israel dengan Iran telah berkembang cepat sejak akhir Februari 2026. Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, menandai eskalasi ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pada 24 Maret 2026, Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel, menambah kompleksitas konflik ini.
Amerika Serikat mengklaim sedang membuka jalur negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Namun, Teheran membantah adanya pembicaraan antara kedua negara. Mohammad Bagher Ghalibaf, seorang pejabat tinggi Iran, menegaskan, “Tidak ada negosiasi.” Sementara itu, Donald Trump mengklaim telah berbicara dengan seorang tokoh Iran tingkat tinggi, tetapi rincian lebih lanjut mengenai pembicaraan tersebut tidak diungkapkan.
Ketegangan semakin meningkat setelah kematian Ali Khamenei, yang dilaporkan memicu ketidakpastian politik di Iran. Mojtaba Khamenei kemudian ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, yang mungkin akan mempengaruhi arah kebijakan luar negeri negara tersebut. Penasihat militer Iran menyatakan bahwa perang akan berlanjut hingga kompensasi penuh diterima, menunjukkan bahwa resolusi damai mungkin masih jauh dari jangkauan.
Rusia, sebagai salah satu kekuatan besar yang terlibat dalam diplomasi Timur Tengah, menyerukan penyelesaian politik dan diplomatik untuk mengakhiri perang. Qatar juga menyatakan dukungannya terhadap semua upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik, meskipun tidak terlibat sebagai mediator. Majed al-Ansari dari Qatar menyatakan, “Kami mendukung semua upaya diplomatik dalam kerangka ini, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi.”
Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu krisis energi global. Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, menyatakan, “Jika perang ini berkepanjangan, kehilangan pasokan minyak harian dapat membuka jalan menuju krisis yang bahkan lebih besar daripada gabungan dampak krisis minyak tahun 1970-an dan perang Rusia di Ukraina.” Iran juga telah memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi 20% pasokan minyak dunia, yang semakin memperburuk situasi global.
Reaksi dari berbagai pihak menunjukkan bahwa ketegangan ini tidak akan mereda dalam waktu dekat. Esmail Kowsari, seorang pejabat Iran, menyatakan, “Trump, Netanyahu dan yang lainnya pada dasarnya adalah pembohong. Sifat mereka adalah menciptakan perpecahan.” Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada klaim negosiasi, ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat tetap tinggi.
Dengan situasi yang terus berkembang, banyak pengamat dan pejabat memperkirakan bahwa konflik ini akan berlanjut, dengan dampak yang luas tidak hanya bagi Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga bagi stabilitas regional dan ekonomi global. Details remain unconfirmed.














