Pembelajaran daring sempat direncanakan untuk diterapkan kembali pada April 2026, namun dibatalkan. Pembelajaran daring tidak dilaksanakan di tengah krisis global, dan Menteri Koordinator PMK Pratikno menegaskan bahwa proses pembelajaran harus tetap dilakukan secara luring.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan bahwa pembelajaran daring batal demi penguatan pendidikan karakter. Menurutnya, pembelajaran di sekolah dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter.
Pembelajaran daring di Denpasar tidak dilaksanakan dan siswa akan kembali ke sekolah normal pada 30 Maret 2026. Pemerintah memutuskan bahwa pembelajaran daring tidak menjadi prioritas karena dikhawatirkan dapat menimbulkan learning loss.
AA Gede Wiratama juga menegaskan, “Pembelajaran daring tidak menjadi prioritas, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan learning loss.” Hal ini menunjukkan kekhawatiran akan dampak negatif dari pembelajaran daring terhadap kualitas pendidikan siswa.
Menko PMK Pratikno menambahkan, “Proses pembelajaran harus semakin optimal dan jangan sampai timbul learning loss.” Pernyataan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjaga kualitas pendidikan di tengah tantangan yang ada.
Pembelajaran tatap muka diutamakan untuk menjaga kualitas pendidikan siswa. Kebijakan pembelajaran daring tidak menjadi kebutuhan mendesak saat ini, dan pemerintah mendorong transformasi sistem pemerintahan berbasis elektronik dan efisiensi di berbagai sektor.
Dengan keputusan ini, diharapkan siswa dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan belajar yang lebih baik. Observasi lebih lanjut akan dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas pendidikan tetap terjaga.
Details remain unconfirmed.














