wartawarganews

Latest News, Stories and Updates from Citizens

Mokel: Peristiwa di Kecamatan Pakenjeng

mokel — ID news

Peristiwa yang melibatkan istilah mokel terjadi pada Jumat, 13 Maret 2026, di Kecamatan Pakenjeng, Garut, Jawa Barat. Tito Kobra, seorang pemuda, mengancam Kapolsek Pakenjeng, Iptu Muslih Hidayat, setelah ditegur karena kedapatan makan di siang hari selama bulan Ramadan.

Menurut Iptu Muslih, saat berada di lokasi, ia merasa aneh karena banyak motor terparkir, tetapi tidak ada orang yang terlihat. Kejadian ini mencerminkan adanya tekanan sosial di lingkungan yang mayoritas berpuasa.

Setelah ditegur, Tito Kobra mengeluarkan ancaman, “Kalau begitu, ku aing dipaehan Camat sakalaian jeung Kapolsekna.” Dalam insiden tersebut, Tito Kobra juga membawa sebilah golok berukuran kecil saat ditangkap.

Muslih kemudian memberikan hukuman push-up kepada pemuda yang kedapatan tidak berpuasa, namun memilih untuk tidak membuat laporan resmi untuk memproses hukum Tito Kobra.

Istilah mokel sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘membatalkan’ atau ‘tidak melanjutkan’. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada seseorang yang membatalkan puasa secara sengaja tanpa alasan yang dibenarkan.

Sejak awal Ramadan 2026, istilah mokel muncul di media sosial dan menjadi candaan kolektif di kalangan anak muda. Pengamat budaya digital menyatakan bahwa penggunaan kata ini bisa menjadi mekanisme coping dalam menghadapi tekanan sosial.

Istilah ini sering digunakan dalam unggahan, meme, dan komentar di media sosial, menunjukkan bagaimana fenomena mokel telah menjadi bagian dari budaya digital saat ini.

Selain mokel, istilah lain seperti ‘godin’ dan ‘budim’ juga digunakan untuk menggambarkan tindakan membatalkan puasa secara diam-diam. Hal ini menunjukkan bahwa ada variasi dalam cara masyarakat menanggapi fenomena ini.

Peristiwa ini menyoroti dinamika sosial yang terjadi di masyarakat, terutama dalam konteks bulan Ramadan, di mana puasa menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya peristiwa ini, masyarakat diharapkan lebih memahami pentingnya menghormati praktik puasa dan saling menghargai dalam menjalani bulan suci.

Details remain unconfirmed.