China terus mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan telah berulang kali menyatakan bahwa mereka siap menggunakan kekuatan jika diperlukan untuk mengendalikan pulau tersebut. Pada 15 Maret 2026, Taiwan mendeteksi 26 pesawat militer China yang beroperasi di dekat pulau itu, menandai peningkatan signifikan dalam aktivitas militer China setelah periode tenang selama dua minggu.
Dari 26 pesawat tersebut, enam belas di antaranya memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan (ADIZ) di berbagai sektor. Selain itu, tujuh kapal angkatan laut China juga terlihat beroperasi di dekat Taiwan. Sebelumnya, antara 27 Februari dan 5 Maret 2026, Taiwan mencatat tidak ada pelanggaran di garis median atau ke dalam ADIZ-nya.
Hanya dua pesawat yang terdeteksi pada 6 Maret 2026, dan tidak ada penerbangan yang tercatat selama empat hari berikutnya. Para analis berspekulasi bahwa penurunan aktivitas sebelumnya mungkin terkait dengan pertemuan Kongres Rakyat Nasional China. Beijing mungkin juga berusaha meredakan ketegangan menjelang kunjungan potensial Donald Trump ke China pada akhir Maret.
Meski ada penurunan aktivitas militer, pejabat pertahanan Taiwan tidak mengubah sikap defensif mereka selama periode tersebut. China tetap mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menunjukkan kesiapannya untuk menggunakan kekuatan jika diperlukan.
Tekanan militer melalui patroli udara dan laut telah menjadi fitur reguler dari ketegangan lintas selat. Penurunan aktivitas militer baru-baru ini terlihat lebih mencolok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, rincian mengenai alasan pasti di balik perlambatan aktivitas militer China sebelumnya belum terkonfirmasi.
Situasi ini terus dipantau oleh para pengamat dan pejabat, yang khawatir tentang potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut. Ketegangan antara Taiwan dan China tetap menjadi isu yang sangat sensitif di Asia Timur, dan perkembangan lebih lanjut diharapkan dalam waktu dekat.













