Kenaikan harga BBM menjadi pertanyaan besar di tengah ketegangan geopolitik global. Saat ini, pemerintah Indonesia belum menaikkan harga BBM, meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa harga BBM masih stabil.
Bahlil Lahadalia menegaskan, “Kita belum menaikkan harga,” dan menambahkan bahwa hingga saat ini harga BBM juga belum mengalami kenaikan. Meskipun demikian, ada kekhawatiran bahwa kenaikan harga BBM mungkin diperlukan jika perang di Timur Tengah berlangsung lama dan harga minyak mentah dunia tetap tinggi.
Menurut Kepala Ekonom David Sumual, penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perlu dilakukan jika harga minyak tetap tinggi. Ia mengatakan, “Rasionalisasi APBN, revisi APBN ya perlu dilakukan dalam sebulan ini.” Ini menunjukkan bahwa pemerintah harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM di masa depan.
Dalam konteks ini, rasionalisasi subsidi BBM mungkin diperlukan untuk menjaga ketahanan fiskal. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan solusi yang lebih tepat tanpa menaikkan harga BBM, yaitu dengan menggabungkan penghematan yang cermat dengan penambahan penerimaan dan perlindungan daya beli.
Cadangan minyak Indonesia saat ini dalam kondisi aman, dan pemerintah berupaya menjaga ketersediaan energi nasional. Namun, jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, harga BBM bisa terpengaruh. Asumsi harga BBM per barel saat ini berada di angka 70 dolar AS.
Dalam situasi ini, kebutuhan BBM per hari diperkirakan mencapai 30-40 liter. Inflasi tahunan saat ini tercatat sebesar 4.76%, sementara suku bunga Bank Indonesia berada di angka 4.75%. Pertumbuhan penjualan eceran year on year juga menunjukkan angka 6.9%.
Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, pemerintah harus terus memantau situasi global dan domestik. Masyarakat menunggu langkah selanjutnya dari pemerintah terkait kebijakan harga BBM.
Details remain unconfirmed.














