Key moments
Sebelum penemuan terbaru ini, Kamboja dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, namun penelitian di bidang ini masih terbatas, terutama di habitat batuan kapur. Banyak spesies yang belum teridentifikasi dan potensi biodiversitas yang belum sepenuhnya dieksplorasi. Harapan untuk menemukan spesies baru sering kali terhalang oleh ancaman dari aktivitas manusia seperti penambangan dan perburuan satwa liar.
Pada 25 Maret 2026, sebuah survei biodiversitas yang dilakukan di Provinsi Battambang mengungkapkan hasil yang mengejutkan. Tim peneliti menemukan 11 spesies baru, termasuk ular berbisa hijau zamrud dan ular terbang. Penemuan ini merupakan hasil dari survei yang dilakukan dari November 2023 hingga Juli 2025, di mana 64 gua dan 10 perbukitan karst dijelajahi, mencakup total 20.000 kilometer persegi lanskap karst di Kamboja.
Sejak penemuan ini, tujuh spesies baru telah diumumkan, termasuk tiga spesies tokek baru dan satu spesies ular pit viper. Kementerian Lingkungan Hidup Kamboja juga mengonfirmasi penemuan banyak spesies hewan baru dan langka, menunjukkan pentingnya penelitian lebih lanjut di kawasan ini. Penemuan ini tidak hanya menambah daftar spesies yang diketahui, tetapi juga menyoroti keberadaan satwa yang terancam punah, seperti trenggiling Sunda dan merak hijau.
Langkah ini diambil di tengah ancaman yang dihadapi oleh ekosistem batuan kapur, yang merupakan area pegunungan dan gua batugamping dengan keanekaragaman hayati endemik. Aktivitas penambangan, pariwisata berlebihan, dan perburuan satwa liar menjadi tantangan besar bagi kelestarian habitat ini. Organisasi Konservasi Satwa Liar telah berkolaborasi dengan mitra lokal untuk melestarikan habitat batuan kapur, namun tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, peluang untuk menemukan fitur unik dari daerah-daerah ini dapat hilang.
Lee Grismer, seorang ahli biodiversitas, menyatakan, “Jika kita ingin benar-benar melindungi keanekaragaman hayati di planet ini, kita harus tahu terlebih dahulu apa saja yang ada.” Pernyataan ini menekankan pentingnya penelitian yang lebih mendalam untuk memahami dan melindungi spesies yang ada. Thy Sothearen, seorang peneliti lainnya, menyebut kawasan lanskap batu kapur di Kamboja sebagai “harta karun ilmiah tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan.”
Penemuan ini juga mengingatkan kita akan risiko kepunahan yang dihadapi spesies yang belum terdeskripsi. Pablo Sinovas mengingatkan, “Jika suatu area dihancurkan, sementara spesies di dalamnya tidak hidup di tempat lain, maka kita berisiko menyebabkan kepunahan, bahkan pada spesies yang belum sempat dideskripsikan.” Dengan demikian, penting untuk melindungi habitat ini agar keanekaragaman hayati yang ada tidak hilang selamanya.
Penelitian ini baru menyentuh sebagian kecil dari potensi biodiversitas kawasan tersebut. Dengan lebih banyak penelitian dan pengelolaan yang tepat, Kamboja dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam hal konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati. Namun, tantangan tetap ada, dan perhatian global diperlukan untuk memastikan bahwa spesies dan habitat yang baru ditemukan ini dapat bertahan di masa depan.












