Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, baru-baru ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa kedua negara tidak mencapai kesepakatan setelah 21 jam negosiasi? Jawabannya terletak pada penolakan Iran terhadap syarat utama yang diajukan oleh Washington.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memimpin delegasi yang berusaha untuk mencapai kesepakatan, namun Iran, yang dipimpin oleh Mohammad Baqer Qalibaf dan Abbas Araqchi, menuntut pencairan aset yang dibekukan sebesar 120 miliar dolar sebagai bagian dari kesepakatan damai. Vance mengungkapkan bahwa AS datang dengan sikap fleksibel dan itikad baik, tetapi negosiasi tetap tidak membuahkan hasil.
Ini merupakan perundingan tatap muka pertama antara AS dan Iran sejak revolusi Islam 1979, menandai momen penting dalam hubungan kedua negara. Vance menyatakan, “Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan.”
Salah satu isu krusial yang dihadapi dalam negosiasi adalah Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi 20 persen minyak dunia. Vance menekankan bahwa menghentikan Iran dari memiliki senjata nuklir adalah tujuan utama dari mantan Presiden Donald Trump.
Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa meskipun ada perbedaan, negosiasi akan terus berlanjut. Namun, belum ada kejelasan kapan negosiasi akan dilanjutkan, dan detail mengenai proposal 10 butir dari Iran serta rencana 15 poin dari Trump belum sepenuhnya terungkap. Details remain unconfirmed.
Dengan latar belakang kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 8 April 2026, perundingan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi hubungan yang lebih baik antara kedua negara. Namun, tantangan yang dihadapi menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh rintangan.








