Pada 29 Maret 2026, Israel terlibat dalam serangan yang menewaskan lima orang di dermaga Bandar Pol, Iran. Serangan ini merupakan bagian dari konflik yang lebih luas antara AS dan Israel melawan Iran, yang telah berlangsung selama sebulan.
Serangan tersebut juga menyebabkan empat orang lainnya terluka. Selain itu, pada 28 Maret 2026, serangan udara Israel di Lebanon mengakibatkan tewasnya tiga jurnalis, sehingga total jumlah jurnalis yang tewas di Lebanon tahun ini menjadi lima orang.
Militer Israel mengakui bahwa mereka telah menargetkan jurnalis Ali Shoeib dalam serangan tersebut. Sejak perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026, jumlah total korban tewas di Lebanon mencapai 1.189 orang, termasuk 51 petugas medis yang tewas selama bulan Maret.
Pentagon juga dilaporkan sedang mempersiapkan operasi militer darat di Iran, dengan 2.500 marinir AS dikerahkan ke Timur Tengah dan 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara Ke-82 direncanakan akan dikirim ke wilayah tersebut.
Dalam 24 jam terakhir, Hizbullah meluncurkan 250 proyektil ke Lebanon bagian selatan, sementara angkatan udara Israel menyerang 100 target di Lebanon sejak 27 Maret 2026.
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyatakan bahwa perang AS dan Israel dengan Iran merupakan kesalahan politik yang fatal, dan menyebut bahwa perang ini seharusnya bisa dihindari jika AS dan Israel hanya ingin menghentikan Iran mengembangkan nuklir.
Joseph Aoun, seorang pejabat, mengutuk serangan terhadap jurnalis sebagai kejahatan yang melanggar semua hukum internasional yang melindungi wartawan dalam situasi perang.
Hizbullah menanggapi dengan menyebut klaim musuh sebagai ekspresi kelemahan dan upaya untuk menghindari tanggung jawab atas kejahatan ini.
Ahmed Nagi, seorang analis, memperingatkan bahwa jika Houthi meningkatkan serangan terhadap pelayaran komersial, hal itu dapat mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu keamanan maritim secara keseluruhan.
Details remain unconfirmed. Belum ada konfirmasi independen dari pihak AS maupun Israel terkait serangan di Iran, dan belum jelas apakah Presiden AS Donald Trump akan menyetujui rencana operasi militer darat di Iran.













