wartawarganews

Latest News, Stories and Updates from Citizens

Hukum Puasa Ramadhan Jika Sudah Ada yang Lebaran

hukum puasa ramadhan jika sudah ada yang lebaran — ID news

Pada tanggal 20 Maret 2026, sebagian umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri, sementara yang lain masih menjalankan puasa Ramadan. Hal ini terjadi karena perbedaan penetapan awal bulan Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah, di mana Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada 20 Maret 2026, sedangkan pemerintah pada 21 Maret 2026.

Menurut Abd. Halim, puasa Ramadan menjadi haram jika seseorang sudah mengetahui dan meyakini bahwa hari tersebut adalah tanggal 1 Syawal. “Diharamkan puasa kalau sudah mengetahui dan meyakini jatuhnya tanggal satu Syawal,” ujarnya.

Larangan puasa pada Hari Raya Idul Fitri juga disebutkan dalam sejumlah hadits, di mana hari tersebut merupakan waktu untuk berbuka setelah sebulan berpuasa. Umat Islam dilarang berpuasa pada hari raya tersebut, yang merupakan hari untuk merayakan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa.

Jumlah hari puasa dalam kalender Hijriah berkisar antara 29 atau 30 hari, tidak boleh lebih dari itu. Jika hilal tidak terlihat, puasa Ramadan harus disempurnakan menjadi 30 hari. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh umat Islam dalam menentukan kapan mereka harus berbuka.

Perbedaan penetapan awal bulan Syawal terjadi karena metode penentuan yang digunakan tidak selalu sama. Ustaz Khalid Basalamah menegaskan bahwa keputusan puasa harus kembali kepada pemerintah dan ormas Islam. “Kalau saya, wallahualam, kembali kepada pemerintah,” katanya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan toleransi terkait perbedaan tanggal Lebaran 2026. Ia menekankan bahwa perbedaan ini termasuk perkara ijtihadiyah yang wajar terjadi dan sebaiknya disikapi dengan saling menghormati. “Akhirnya, sebagai Menteri Agama dan mewakili pemerintah, saya juga ingin menyampaikan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah,” ujarnya.

Dalam situasi ini, umat Islam diharapkan dapat mengikuti kepercayaan masing-masing tanpa merendahkan kepercayaan lain. “Tinggal ikuti kepercayaan sendiri tanpa merendahkan kepercayaan lain apa susahnya?” menjadi pesan penting dalam menghadapi perbedaan ini.

Dengan adanya perbedaan penetapan Idul Fitri, umat Islam di Indonesia diingatkan untuk saling menghormati dan memahami bahwa setiap ormas memiliki cara dan metode masing-masing dalam menentukan hari raya. Hal ini diharapkan dapat menciptakan suasana yang harmonis di tengah perbedaan.

Details remain unconfirmed.