“Hasil pengamatan dari seluruh titik pantau tersebut menjadi dasar penetapan Idulfitri bagi pemerintah,”
Data yang dirilis oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk, namun belum memenuhi kriteria imkanur rukyah. Ketinggian hilal bervariasi di berbagai daerah, dengan ketinggian tertinggi tercatat di Kota Sabang, Provinsi Aceh, yaitu 2 derajat 53 menit. Sementara itu, ketinggian terendah terjadi di Merauke, Provinsi Papua Selatan, dengan tinggi hilal mar’ie 0 derajat 49 menit.
Ijtimak atau konjungsi bulan terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, pukul 08:25:58 WIB. Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara 0.91 derajat di Merauke hingga 3.13 derajat di Sabang. Elongasi geosentris juga menunjukkan variasi, dengan nilai terendah 4.54 derajat di Waris dan tertinggi 6.1 derajat di Banda Aceh.
Umur bulan pada saat matahari terbenam juga bervariasi, berkisar antara 7.41 jam di Waris hingga 10.44 jam di Banda Aceh. Lama hilal di atas ufuk saat matahari terbenam berkisar antara 5.6 menit di Merauke sampai dengan 15.66 menit di Sabang. Data ini menunjukkan bahwa meskipun hilal terlihat, kondisi atmosfer dan metode pengamatan sangat mempengaruhi hasil yang didapat.
What observers say
Yatny Yulianty menambahkan, “Keberhasilan pengamatan sangat dipengaruhi kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan.” Hal ini menunjukkan bahwa pengamatan hilal bukan hanya sekadar melihat bulan, tetapi juga melibatkan banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Details remain unconfirmed. Kepastian awal Syawal 1447 H masih menunggu hasil rukyah yang diumumkan oleh LF PBNU dan hasil sidang isbat yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan demikian, masyarakat diharapkan untuk menunggu pengumuman resmi terkait penetapan Idulfitri.
Pengamatan hilal merupakan tradisi penting dalam menentukan awal bulan dalam kalender Islam. Setiap tahun, berbagai lembaga dan organisasi melakukan pengamatan untuk memastikan bahwa penetapan hari raya dilakukan dengan akurat. Dengan adanya teknologi dan metode pengamatan yang semakin berkembang, diharapkan hasil yang diperoleh dapat lebih tepat dan dapat diandalkan.














