Pada 27–28 Maret 2026, fenomena langit merah darah melanda Australia Barat, yang sebelumnya tidak diperkirakan akan terjadi dalam skala sebesar ini. Sebelum kejadian ini, masyarakat setempat tidak mengantisipasi dampak besar dari cuaca ekstrem yang akan datang.
Perubahan dramatis terjadi ketika Siklon Tropis Narelle membawa angin merusak dengan kecepatan lebih dari 105 mph (sekitar 169 km/jam), yang menyebabkan badai debu ekstrem. Kecepatan angin tercatat melebihi 124 mil per jam (sekitar 200 km/jam), dan kondisi ini langsung mengubah langit menjadi merah darah akibat debu yang berasal dari tanah kaya oksida besi di wilayah tersebut.
Akibat dari fenomena ini, Exmouth mengalami pemadaman listrik, air, dan komunikasi. Aktivitas warga lumpuh total, dan proses pemulihan masih berlangsung hingga saat ini. Dalam banyak kasus, ini akan menjadi angin terkuat yang pernah dialami warga di bagian negara bagian ini dalam waktu yang sangat lama, menurut David Crisafulli.
Debu merah tebal yang menyelimuti wilayah tersebut membuat udara sulit dihirup, menambah tantangan bagi warga yang berusaha beradaptasi dengan kondisi baru. Meskipun Exmouth mengalami dampak parah, kota-kota lain seperti Coral Bay, Shark Bay, Geraldton, Kalbarri, dan Carnarvon tampaknya lolos tanpa kerusakan struktural, seperti yang dikatakan oleh Paul Papalia.
Fenomena ini, meskipun terlihat seperti ‘tanda kiamat’, sebenarnya merupakan proses alami yang pernah terjadi sebelumnya di Australia saat badai debu besar atau kebakaran hutan. Namun, kondisi cuaca masih berpotensi berbahaya, dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada.
Rekaman menunjukkan cahaya siang hari lenyap dalam hitungan menit, menandakan betapa cepatnya perubahan yang terjadi. Dengan kondisi ekstrem ini, masyarakat diharapkan dapat segera pulih dan kembali beraktivitas normal.
Details remain unconfirmed.














