Key moments
PT PLN (Persero) mengumumkan kolaborasi untuk mendukung transisi energi di Indonesia, dengan tujuan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Dalam acara EBTKE ConEx 2023 yang berlangsung di Tangerang, PLN memamerkan motor listrik yang telah dikonversi, menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan kendaraan listrik.
Dalam konteks ini, emisi karbon dari 1 liter bahan bakar mencapai 2,4 kg CO2e, sementara emisi dari 1,5 kWh listrik hanya 1,5 kg CO2e. Dengan menggunakan kendaraan listrik, pengguna dapat mengurangi emisi karbon hingga 50% dan menurunkan biaya operasional hingga 75%. Biaya listrik per kWh di Indonesia adalah IDR 1,699.53, yang berarti biaya listrik untuk menempuh 10 km adalah IDR 2,500, dibandingkan dengan harga 1 liter bahan bakar yang mencapai IDR 13,000.
PLN telah mengembangkan 616 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 351 lokasi di seluruh Indonesia, serta 1,401 unit Stasiun Pertukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperluas infrastruktur kendaraan listrik di tanah air.
Indonesia memiliki target ambisius untuk memproduksi 400,000 kendaraan listrik pada tahun 2025 dan 600,000 pada tahun 2030. Namun, hingga Juni 2025, Indonesia baru memproduksi 25,861 mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik di Indonesia mengalami lonjakan sebesar 152,5% pada kuartal pertama 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan minat yang meningkat terhadap teknologi ini.
Proyek Dragon, yang merupakan usaha patungan senilai $5,9 miliar, bertujuan untuk membangun rantai pasokan baterai EV secara menyeluruh di Indonesia. Selain itu, proyek Titan direncanakan memiliki kapasitas produksi baterai sebesar 30 gigawatt-jam per tahun, yang akan mendukung kebutuhan kendaraan listrik di masa depan.
Namun, tantangan tetap ada. Indonesia memiliki salah satu tingkat pengangguran tertinggi di Asia Tenggara, dengan tingkat pengangguran pemuda mencapai 17% pada Oktober 2025. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana transisi ke kendaraan listrik dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Ketika pemerintah mengatakan Indonesia ingin menjadi produsen terbesar baterai listrik, kita harus bertanya, siapa yang memiliki itu?” ujar Evvy Kartini, menyoroti pentingnya kepemilikan dan manfaat bagi masyarakat. Sementara itu, Brad Adams menekankan bahwa “transisi yang adil berarti memusatkan keadilan, bukan hanya teknologi atau investasi. Kita tidak bisa menggantikan satu bentuk kerugian dengan yang lain dan menyebutnya kemajuan.”
