Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian lengkap atas permusuhan di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan pada 23 Maret 2026, di West Palm Beach, Florida.
Trump juga mengumumkan penundaan selama lima hari pada serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran, yang diharapkan dapat meredakan ketegangan yang meningkat. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas membantah bahwa negosiasi antara kedua negara telah terjadi.
Dalam pernyataannya, Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi penghancuran pembangkit listriknya. Ini menambah ketegangan yang sudah ada, di mana Iran mengancam akan menyerang pembangkit listrik AS dan Israel jika serangan dilancarkan terhadap fasilitas Iran.
Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas di Iran. Situasi di kawasan Teluk semakin memanas dengan ancaman misil yang terdeteksi menuju ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Sekitar 20% kebutuhan minyak global melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur strategis yang sangat penting.
Reaksi pasar terhadap pernyataan Trump cukup positif, dengan harga minyak Brent turun 13% menjadi sekitar 96 dolar AS per barel. Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menanggapi klaim Trump dengan menekankan posisi Israel di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik.
“Mereka di bawah, kami di atas,” ungkap Netanyahu, menunjukkan sikap Israel yang tegas dalam menghadapi situasi ini.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan, “Kami membantah apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya negosiasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran.” Pernyataan ini menunjukkan adanya ketidakpastian mengenai kebenaran klaim Trump.
Details remain unconfirmed.














