Kementerian Kesehatan melaporkan 10.301 kasus terkonfirmasi campak di Indonesia hingga pertengahan Maret 2026. Selain itu, terdapat 54 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang terjadi di 37 kabupaten/kota di 13 provinsi.
Pakar Epidemiologi Dicky Budiman menyatakan bahwa momen lebaran berpotensi besar meningkatkan penyebaran campak. “Karena mobilitas tinggi, interaksinya juga tinggi, sering. Ini yang membuat risikonya meningkat,” ungkapnya.
Pasien terduga campak mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kemerahan. Petugas kesehatan memberikan edukasi kepada keluarga mengenai perawatan pasien di rumah, serta pentingnya isolasi sementara untuk mencegah penularan.
Penyelidikan epidemiologi juga dilakukan di lingkungan sekitar rumah pasien terduga campak. Hal ini penting untuk mengidentifikasi dan mengendalikan penyebaran virus.
Dicky Budiman menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk lansia, yang sebaiknya menggunakan masker saat berinteraksi selama lebaran. “Termasuk kalau ada yang rentan, selain dilindungi, kalau lansia didatangi pada saat lebaran ini pakai masker,” tambahnya.
Infeksi campak, yang disebabkan oleh virus measles (MeV), kini kembali merebak, menandakan perlunya perhatian lebih dalam program imunisasi dan pencegahan penyakit menular.
Details remain unconfirmed.







