Bagaimana Bodo/Glimt bisa kalah telak 0-5 dari Sporting CP di leg kedua babak 16 besar Liga Champions? Kekalahan ini mengakhiri harapan Bodo/Glimt untuk menjadi klub Norwegia pertama yang mencapai perempat final Liga Champions dalam 29 tahun.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Estadio Jose Alvalade, Lisbon, Sporting CP berhasil membalikkan defisit agregat 3-0 yang mereka hadapi sebelum leg kedua. Dengan agregat akhir 5-3, Sporting CP mencatatkan sejarah dengan membalikkan keadaan untuk pertama kalinya sejak musim 1963/1964 di kompetisi UEFA.
Pelatih Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen, mengakui bahwa timnya kalah mental dalam pertandingan ini. “Kami tidak bermain sesuai yang kami inginkan, laga ini jadi terlalu besar buat kami,” ungkap Knutsen. Ia menambahkan bahwa timnya terbawa oleh besarnya momen tersebut.
Keberhasilan Bodo/Glimt mencapai babak 16 besar Liga Champions sebelumnya telah memberikan mereka pendapatan sebesar 11 juta Euro. Namun, kekalahan ini membuat mereka kehilangan potensi pendapatan sebesar 147 juta Kroner Norwegia, yang setara dengan 256,15 miliar.
Patrick Berg, salah satu pemain Bodo/Glimt, juga mengungkapkan kekecewaannya. “Tentu saja ini performa yang jauh di bawah standar kami. Namun, kita tidak boleh mengubur diri sendiri,” katanya.
Secara keseluruhan, Bodo/Glimt sebelumnya telah menunjukkan performa yang mengesankan dengan mengalahkan tim-tim besar seperti Manchester City dan Atletico Madrid di fase liga. Namun, dalam pertandingan melawan Sporting CP, mereka tidak mampu mempertahankan performa tersebut.
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Bodo/Glimt dan para pemainnya. Mereka harus segera bangkit dan fokus pada kompetisi berikutnya.
Dengan hasil ini, masa depan Bodo/Glimt di pentas Eropa masih menyisakan banyak pertanyaan. Detail lebih lanjut mengenai langkah selanjutnya tim ini tetap belum terkonfirmasi.












