Banjir yang melanda Sulawesi Tengah pada Jumat, 3 April 2026, sekitar pukul 17.00 Wita, memicu pertanyaan mengenai dampak dan respons terhadap bencana ini. Banjir ini terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dengan intensitas tinggi.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebanyak 552 unit rumah terdampak di Kecamatan Sirenja dan Balaesang, Kabupaten Donggala. Di Kecamatan Moutong, sekitar 227 kepala keluarga juga mengalami dampak yang signifikan, sementara di Kecamatan Taopa, tujuh kepala keluarga terdampak.
Di Desa Gio Barat, satu rumah dilaporkan rusak ringan. Sementara itu, di Desa Pandelalap, enam titik tanggul jebol dan satu jembatan mengalami kerusakan. Di Desa Pande, kerusakan lahan pertanian juga terjadi, dengan 15 hektare kebun kakao dan 10 hektare kebun jagung rusak total.
Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menyatakan, “Warga terdampak ada yang memilih tetap di rumah ada pula yang mengungsi ke rumah kerabat mereka.” Hal ini menunjukkan bahwa meskipun situasi telah membaik, banyak warga yang masih merasa tidak aman untuk kembali ke rumah mereka.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, menambahkan, “Hujan sudah berhenti dan air telah surut tapi penggunaan alat berat di Sirenja penting dalam upaya normalisasi sungai.” Ini menunjukkan bahwa meskipun situasi saat ini membaik, masih ada langkah-langkah yang perlu diambil untuk memastikan keamanan dan stabilitas di daerah yang terdampak.
Secara keseluruhan, tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam kejadian banjir ini, tetapi kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan. Banjir ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap bencana alam di wilayah tersebut.
Details remain unconfirmed.














