Bahlil Lahadalia mengungkapkan, “Saya memohon, menyarankan agar ayo, kita harus memakai energi dengan bijak. Yang tidak perlu, saya sarankan jangan. Contoh, katakanlah, kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak, jangan kompornya boros.” Pernyataan ini disampaikan pada 28 Maret 2026 di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam konteks krisis bahan bakar yang disebabkan oleh konflik antara AS dan Iran.
Bahlil, yang menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, menekankan pentingnya penggunaan energi yang bijaksana untuk meningkatkan pasokan energi di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa saat ini Indonesia hanya memiliki 25 hari stok minyak, jauh di bawah 254 hari yang dimiliki Jepang.
Reaksi terhadap pernyataan Bahlil beragam. Ekonom Bhima Yudhistira mengkritik pernyataannya, menyebutnya sebagai “pernyataan paling tidak bermutu keluar dari seorang Menteri Energi (ESDM). Seharusnya lebih empati dan fokus ke inti permasalahan.” Kritik ini menunjukkan kekhawatiran bahwa pernyataan tersebut tidak cukup substansial untuk menangani krisis yang ada.
Di sisi lain, M. Sarmuji membela Bahlil, menyatakan bahwa pernyataan tersebut merupakan imbauan yang bersifat penegasan. “Sebenarnya ini imbauan bersifat penegasan saja. Dalam situasi normal pun kita harus hemat energi,” ujarnya.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa dia telah diperintahkan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mencari sumber pasokan minyak baru sebagai respons terhadap krisis ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang berupaya untuk mengatasi masalah pasokan energi yang semakin mendesak.
Dengan situasi yang semakin mendesak, Bahlil menekankan, “Karena ini kita harus betul-betul minta bantuan rakyat untuk kita bersama-sama untuk memakai energi yang bijaksana.” Ini adalah seruan untuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan energi yang ada.
Pernyataan Bahlil Lahadalia dan reaksi yang ditimbulkan mencerminkan kompleksitas masalah energi di Indonesia, di mana kebutuhan akan penghematan dan efisiensi energi semakin mendesak di tengah ketidakpastian global.
Details remain unconfirmed.













