Aghnia Punjabi terlibat dalam kontroversi setelah menggunakan video Vidi Aldiano untuk konten promosi pada 18 Maret 2026. Video tersebut menampilkan Vidi yang membahas pentingnya kesehatan, namun tindakan Aghnia menuai backlash karena dianggap mengeksploitasi kematian Vidi untuk kepentingan pribadi.
Kontroversi ini muncul ketika Fita Anggriani mengkritik Aghnia di Instagram, menyatakan, “Niat sebagai pengingat tentang pentingnya kesehatan dan merawat diri. PRETTTTTTTT. Endorse mah endorse ajeh ga usah embel embel pake contoh vidi meninggal mbakeee ! Tol*l ! Otak lu dimaneeee!” Kritik tersebut mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap cara Aghnia menyampaikan pesan tersebut.
Aghnia kemudian mengeluarkan permohonan maaf melalui media sosial, menyatakan, “Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas konten yang saya unggah dan telah menimbulkan kesalahpahaman.” Dia juga mengakui bahwa niatnya adalah untuk mengingatkan orang tentang kesehatan, tetapi cara penyampaiannya dianggap kurang bijak.
Setelah menerima kritik yang signifikan, Aghnia menghapus postingan tersebut dari akun media sosialnya. Dalam pernyataannya, dia menegaskan, “Kepergian almarhum Vidi Aldiano merupakan kehilangan besar bagi banyak orang.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Aghnia menyadari dampak emosional dari kematian Vidi terhadap masyarakat.
Kontroversi ini menyoroti isu etika dalam penggunaan individu yang telah meninggal dalam konten promosi. Banyak yang mempertanyakan apakah tindakan Aghnia mencerminkan ketidakpekaan terhadap perasaan keluarga dan penggemar Vidi.
Aghnia juga menegaskan, “Niat saya sebenarnya ingin berbagi pengingat tentang pentingnya kesehatan dan merawat diri, tetapi cara penyampaiannya jelas kurang bijak.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun niatnya baik, pelaksanaan yang buruk dapat menyebabkan reaksi negatif dari publik.
Seiring dengan berkembangnya diskusi mengenai etika dalam media sosial, tindakan Aghnia Punjabi menjadi contoh nyata tentang bagaimana konten yang sensitif dapat memicu reaksi yang kuat dari masyarakat. Detail remain unconfirmed.














